Bab I

Pendahuluan

 

 

 

  1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan, kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mewujudkan derajat kesehatan bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan dendekatan peningkat (promotif ), pencegahan penyakit (preventif ), penyembuhan (kuratif) pemulihan ( rehabilitatif).

Untuk mewujudkan pemerataan kesehatan, peningkatan derajat kesehatan dan pembinaan masyarakat maka dibangun Puskesmas di setiap wilayah kecamatan. Di wilayah kecamatan kebakkramat telah dibangun Puskesmas Kebakkramat I. Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi khususnya di UPT Puskesmas Kebakkramat I, disusun  buku Profil Kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018 ini. Pada profil kesehatan ini disampaikan gambaran dan situasi kesehatan, gambaran umum tentang derajat kesehatan dan lingkungan, situasi upaya kesehatan, dan situasi sumber daya kesehatan.

Profil Kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mendukung sistem manajemen kesehatan yang lebih baik dalam rangka pencapaian Visi UPT Puskesmas Kebakkramat I yaitu “Menjadikan Puskesmas Kebakkramat I sebagai solusi pertama masalah kesehatan masyarakat”.

Sedangkan di UPT Puskesmas Kebakkramat I mempunyai 4 misi yaitu :

  1. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia yang berkesinambungan dalam pelayanan kesehatan
  2. Mengembangkan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan pelayanan masyarakat.
  3. Memelihara dan meningkatkan mutu upaya kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya.
  4. Berkoordinasi dan bekerjasama denganlintas sektr yang terkait dalam pelayanan dan pembangunan kesehatan.

 

Motto UPT Puskesmas Kabakkramat I

“We Care Your Health ( Kami Peduli Kesehatan Anda)”

Strategi organisasi :

  • Meningkatkan budaya kerja optimal
  • Mengutamakan Kepuasan Pelanggan
  • Memberi Pelayanan dasar yang prima
  • Memberi pelayanan yang cepat, murah, ramah dan bermanfaat
  • Memberi penghargaan pada pegawai yang berprestasi
  • Memberi kesempatan pengembangan profesi.

Tata nilai budaya kerja :

  • Cakap
  • Aman
  • Ramah
  • Empati

 

  1. Tujuan
    1. Umum

Profil Kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I ini bertujuan untuk memberikan gambaran kesehatan yang menyeluruh di UPT Puskesmas Kebakkramat I dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen secara  berhasil guna dan berdaya guna.

  1. Khusus
    1. Diperolehnya data / informasi pembangunan di lingkungan UPT Puskesmas Kebakkramat I yang meliputi : data lingkungan fisik / biologi, perilaku kesehatan masyarakat, data demografi dan sosial ekonomi.
    2. Diperolehnya data / informasi tentang upaya kesehatan di UPT Puskesmas Kebakkramat I yang meliputi : cakupan kegiatan dan sumber daya kesehatan.
    3. Diperoleh data / informasi status kesehatan masyarakat di UPT Puskesmas Kebakkramat I yang meliputi : angka kematian, angka kesakitan dan keadaan gizi masyarakat.
    4. Tersedianya wadah integrasi berbagi data yang telah dikumpulkan oleh berbagai sistem pencatatan dan pelaporan yang ada di Puskesmas, Rumah Sakit maupun pelayanan kesehatan lainnya.
  2. Manfaat

Dengan disusunnya profil kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I diharapkan dapat digunakan oleh pimpinan administrasi kesehatan, unit-unit, maupun berbagai pihak yang memerlukan. Penggunaan terutama dalam rangka tinjauan / revisi tahunan kondisi kesehatan masyarakat di UPT Puskesmas Kebakkramat I dan sebagai alat evaluasi program tahunan yang telah dilaksanakan, untuk menyusun rencana tahunan kesehatan tahun berikutnya.

Manfaat lain adalah memberikan umpan balik / gambaran kegiatan yang telah dilaksanakan oleh UPT Puskesmas Kebakkramat I.

  1. Ruang Lingkup
  2. Jenis Data / Informasi

Data yang dikumpulkan untuk Penyusunan Profil Kesehatan  UPT Puskesmas Kebakkramat I adalah :

  1. Data Umum meliputi data geografi, kependudukan dan sosial ekonomi.
  2. Data Derajat Kesehatan yang meliputi data kematian, data kesakitan, dan data status gizi.
  3. Data Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Hidup Sehat Masyarakat, meliputi data air bersih, data tempat-tempat umum, dan data perilaku hidup sehat.
  4. Data Pelayanan Kesehatan, antara lain data pemanfaatan Rumah Sakit, pemanfaatan Puskesmas, data pelayanan kesehatan ibu dan anak, data pemberantasan penyakit, data pelayanan kesehatan gakin, data penanggulangan KLB, dan data pelayanan kesehatan lainnya.
  5. Data Sumber Daya Kesehatan meliputi data sarana kesehatan, data tenaga kesehatan, data obat dan perbekalan kesehatan, serta data pembiayaan kesehatan, dan data lainnya.
  6. Sistematika Penyusunan Profil Kesehatan

Profil Kesehatan Karanganyar Tahun 2018 disusun dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I        : PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang maksud dan tujuan disusunnya profil kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I dan sistematika dari penyajian berupa uraian bab demi bab yang berurutan.

BAB II       : GAMBARAN UMUM UPT PUSKESMAS KEBAKKRAMAT I

Bab ini menyajikan tentang gambaran umum UPT Puskesmas Kebakkramat I. Selain tentang letak geografis, administratif, dan informasi lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misalnya kependudukan, ekonomi, pendidikan, dan sosial budayanya.

BAB III      : SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Bab ini berisi uraian tentang indikator derajat kesehatan meliputi : angka kesakitan, kematian dan status gizi masyarakat.

BAB IV     : SITUASI UPAYA KESEHATAN

Bab ini menguraikan tentang penyelenggaraan upaya kesehatan pada berbagai jenis dan jenjangmeliputi : pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, serta akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar.

BAB V      : SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, serta pembiayaan kesehatan di UPT Puskesmas Kebakkramat I.

BAB VI     :  KESIMPULAN

Bab ini berisi sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari profil kesehatan kabupaten di tahun yang bersangkutan. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu di catat bab ini juga mengemukankan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

LAMPIRAN

Lampiran berisi tabel induk yang digunakan dalam penyusunan Profil Kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

Gambaran Umum UPT Puskesmas Kebakkramat I

 

 

  1. KEADAAN GEOGRAFI

Puskesmas Kebakkramat I terletak di wilayah kabupaten karanganyar yang berbatasan dengan Kabupaten Sragen.

Batasan Wilayah

Sebelah Utara : Kecamatan Masaran, kabupaten Sragen
Sebelah Selatan : Kecamatan Jaten, kabupaten Karanganyar
Sebelah Barat : Kecamatan Gondangrejo, kabupaten Karanganyar
Sebelah Timur : Kecamatan Tasikmadu, kabupaten Karanganyar

 

Secara topografi UPT Puskesmas Kebakkramat I merupakan daratan dan merupakan kawasan perkotaan. Puskesmas Kebakkramat I mempunyai lima wilayah binaan yang semuanya bisa dijangkau dengan mudah dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Puskesmas Kebakkramat letaknya sangat strategis yaitu dipinggir jalan besar yang merupakan jalan utama menuju surabaya dan merupakan pintu keluar tol sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat.

Peta administrasi UPT Puskesmas Kebakkramat I

Tahun 2018

 

 

  1. KEADAAN PENDUDUK
    1. Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Perkembangan penduduk dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 mempunyai jumlah  penduduk sebesar 32.723 jiwa.

Grafik 2.1 Penduduk menurut jenis kelamin

Diagram diatas menunjukan bahwa jumlah penduduk terbanyak adalah desa kemiri (9292 jiwa) dan paling sedikit desa kebak (4978 jiwa).

Grafik 2.2 Penduduk menurut umur

Pada Grafik 2.2 terlihat bahwa jumlah balita adalah sebesar 6.9% dari seluruh total penduduk dan jumlah lansia 8.1% dari seluruh total penduduk, sedangkan persentase balita dan anak anak adalah 13.05% dari seluruh total penduduk Kebakkramat I. Berdasarkan data ini dapat kita lihat bahwa komposisi penduduk usia produktif (dewasa) lebih besar dibandingkan usia non produktif (anak anak dan usia lanjut).

Indikator penting yang terkait dengan distribusi penduduk menurut umur yang sering digunakan untuk mengetahui produktifitas penduduk adalah ratio beban ketergantungan atau dependency ratio. Ratio beban ketergantungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya orang yang tidak produktif (umur dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun) dengan banyaknya umur produktif (umur 15-64 tahun). Ratio beban ketergantungan di Wilayah kebakkramat I sebesar 48, angka ini menunjukkan setiap 100 orang yang masih produktif akan menanggung 48 orang yang belum atau sudah tidak produktif lag

 

 

  1. KEADAAN SOSIAL EKONOMI
  2. Alokasi Anggaran Bidang Kesehatan

Total anggaran Kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I pada tahun 2018 sebesar Rp. 3.264.161.000,-. Anggaran kesehatan tersebut berasal dari APBD yang Rp. 655.000.000,- dan  BLUD Rp. 2.609.161.000,-.

Alokasi anggaran Bidang Kesehatan UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 dapat dilihat pada tabel berikut (Lampiran 81):

Tabel 2.1 Alokasi Anggaran Bidang Kesehatan

UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018

No Sumber Biaya Alokasi Anggaran
Rupiah (Rp)
1. BLUD 2.609.161.000

 

2. BOK 655.000.000
  Total Anggaran Kesehatan 3.264.161.000

 

  1. Angka Beban Tanggungan

Angka beban tanggungan diperoleh dari perbandingan banyaknya orang yang tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan 65 tahun keatas) dengan banyaknya usia produktif (usia 15-64 tahun). Berdasarkan Jumlah Penduduk menurut kelompok umur tersebut maka angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 sebesar 48. Artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 48 rang penduduk tidak produktif.

  1. Mata pencaharian penduduk wilayah UPT Puskesmas Kebakkramat I

2.3 Grafik mata pencaharian penduduk upt Puskesmas Kebakkramat I

Dari grafikdiatas dapat diketahui bahwa mata pencaharian terbanyak penduduk wilayah UPT Puskesmas Kebakkrmat I adalah sebagai karyawan swasta sebesar 8682 penduduk.

Wilayah kebakkramat merupakan wilayah industri sehingga banyak penduduk yang bermata pencaharian sebagai karyawan swasta.

  1. TINGKAT PENDIDIKAN

Melalui pendidikan diharapkan dapat terbentuk manusia yang berkualitas sebagaimana yang dicita-citakan yang mampu memanfaatkan, pengembangan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung pembangunan ekonomi, sosial budaya dan berbagai bidang lainnya.

Di wilayah UPT Puskesmas Kebakkramat terdapat beberapa instiusi pendidikan dari taman kanak-kanak sampai sma/smk.

 

 

 

 

Tabel 2.2 Data Institusi Pendidikan di Wilayah Puskesmas

Kebakkramat I

No  Nama Sekolah  Siswa 

Lakilaki 

Siswa  Perempuan  Sekolah 

UKS          

Taman Kanak-2 361 542 19

 

SD Negeri 1602 1705 15

 

Madrasah

Ibtidaiyah

162 202 2

 

SMP Negeri 488 520 1

 

SMP Muhammadiyah 71 82 1

 

SMA Negeri 302 692 1

 

SMK PGRI 82 162 1

 

Pada tahun 2018, berdasarkan data proyeksi dari Disdikbud UPT Puskesmas Kebakkramat I tercatat jumlah Taman Kanak-kanak (TK), baik negeri maupun swasta sebanyak 19 unit, sedangkan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 17 unit swasta dan negeri).

 

Grafik 2.4 : Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018

            Dari grafik diatas bahwa penduduk UPT Puskesmas Kebakkramat I tertinggi menurut adalah persentase pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah SD/MI yaitu sebesar 9314 jiwa (32,79%). Sedangkan yang terendah adalah pendidikan yang ditamatan S2/S3 yaitu sebesar 119 jiwa (0.42%).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

Situasi Derajat Kesehatan

 

 

 

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi. Derajat kesehatan masyarakat digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka morbiditas beberapa penyakit, dan status gizi.

Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak hanya berasal dari faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keterunan dan faktor lainnya.

  1. ANGKA KESAKITAN

Angka kesakitan penduduk diperoleh dari data yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari wilayah UPT Puskesmas Kebakkramat I serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.

  1. PENYAKIT MENULAR

Berdasarkan tabel profil, data angka kesakitan berbagai penyakit sebagai berikut :

  • Penyakit Bersumber Binatang
  • Pengendalian Penyakit Malaria (P2 Malaria)

Tabel 3.1Jumlah Kasus Klinis Malaria

di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2014 – 2018

No Tahun Jumlah Kasus Klinis
1. 2014 1
2. 2015 0
3. 2016 0
4. 2017 0
5. 2018 0

Dari 1 Kasus tahun 2014 tersebut merupakan warga pendatang dari luar jawa dan pasien pernah menderita malaria satu tahun sebelumnya. Kebakkramat bukan termasuk daerah endemis malaria.

 

 

 

  • Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue ( P2 DBD)

Kasus DBD di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018 sebanyak 39 kasus naik dibanding tahun 2017 sebanyak 28 kasus. Jumlah Kasus DBD UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018 digambarkan dalam grafik di bawah ini.

Grafik 3.1 : Kasus DBD  UPT Puskesmas Kebakkramat I

Tahun 2018

 

 

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa kasus DBD pada tahun 2018 terbanyat terdapat didesa kemiri yati sebanyak 13 kasus dan paling sedikit terdapat diesa macanan yaitu 3 kasus. Dari jumlah kasus yang ada, ada 1 kasus kematian DBD pada tahun 2018, sehingga Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2018 sebesar 2.6%.

 

  • Pengendalian Penyakit Filariasis ( P2 Filariasis)

Dampak langsung dari serangan penyakit ini adalah menurunkan derajat kesehatan masyarakat karena menurunnya daya kerja dan produktifitas serta timbulnya cacat anggota tubuh yang menetap. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, beberapa jenis nyamuk diketahui berperan sebagai vektor filariasis antara lain Mansonia, anopheles, dan culex.

Tahun 2018 ditemukan satu kasus baru filariasis, dan sudah dilakukan pengobatan.

 

 

 

  1. Penyakit Menular Langsung
  • Pengendalian Penyakit Tuberculosis Paru ( P2 TB Paru )                   

Menurut tabel 8, perkiraan kasus (suspek) baru TB Paru tahun 2018 sebesar 64 kasus dengan penemuan BTA positif sebesar 12 kasus. Pada tahun 2018 di UPT Puskesmas kebakkramat I ada 15 kasus BTA (+) yang diobati dengan angka kesembuhan 14 pasien. Satu orang yang lainnya meninggal selama proses pengobatan.

 

  • Pengendalian Penyakit Kusta ( P2 Kusta )

Penyakit Kusta disebut juga sebagai penyakit Lepra yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium. Bakteri ini mengalami proses pembelahan cukup lama antara 2-3 minggu. Daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari di luar tubuh manusia. Kuman kusta memiliki masa inkubasi 2-5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5 tahun. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata. Sehingga penyakit kusta dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya jika tidak ditemukan dan diobati secara dini.

Pada tahun 2018 di UPT Puskesmas Kebakkramat I ditemukan satu penderita baru kusta yang sudah selesai diobati.

  • Pengendalian Penyakit Diare ( P2 Diare )

Tahun 2018 penemuan kasus diare sebanyak 1074 kasus, tertinggi di wilayah desa kemiri sebanyak 273 kasus diare, sedang penemuan  terendah kasus diare di wilayah desa macanan sebanyak 117 kasus. Berikut ini grafik Jumlah Kasus Diare tahun  2018 di UPT Puskesmas Kebakkramat I.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 3.2 : Jumlah Kasus Diare

di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018

 

  • Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( P2 ISPA)

Jumlah kasus pneumonia balita yang ditemukan dan ditangani pada tahun 2018 sebanyak 216 kasus (191,4% dari perkiraan target perkiraan penderita), Perhitungan target perkiraan penderita pneumonia balita adalah 3,6% dari jumlah balita yang ada. Penemuan kasus pneumonia balita adalah jumlah kasus yang ditemukan di wilayah kerja puskesmas. Persebaran penemuan pneumonia yang ditemukan dan ditangani di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 dapat dilihat dari grafik di bawah ini :

Grafik 3.3 : Jumlah penemuan Kasus Pneumonia dan Jumlah Penderita yang Ditangani UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018

Dari grafik diatas, penemuan penderita kasus pneumonia balita dan ditangani tertinggi di wilayah desa Kemiri dengan 58 kasus, sedangkan kasus terendah di wilayah desa Macanan dengan 26 kasus. Semua kasus penemuan penderita pneumonia balita ditangani.

  • Pengendalian Penyakit HIV / AIDS ( P2 HIV/ AIDS)

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) Pada tahun 2018  di UPT Puskesmas Kebakkramat I sebanyak 22 orang mengindap HIV, Sedangkan penderita positif AIDS di tahun 2018 sebanyak 57 penderita. Penderita HIV/AIDS paling banyak ditemukan berusia diatas 25 tahun.

Grafik 3.4 : Grafik Jumlah kasus HIV-AIDS

di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun  2018

Penularan HIV-AIDS sangat berkaitan erat dengan pengetahuan dan perilaku, sehingga dalam upaya intervensi pencegahan terhadap kelompok beresiko perlu sekali untuk dikenali identifikasinya. Berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2010 tentang pengetahuan HIV/AIDS pada kelompok usia > 15 th, hanya 56,1 % dari sampel penduduk Jawa tengah yang pernah mendengar tentang HIV / AIDS, sedangkan hanya 5,4% dari total sample yang diambil yang mengetahui adanya tes HIV secara sukarela yang didahului dengan konseling/VCT.

Sedangkan untuk donor darah yang didonorkan melalui PMI sebanyak 6.609 sampel darah, dari hasilscreening HIV/ AIDS ditemukan 2 pendonor yang sampel darah positif HIV/ AIDS (sumber dari PMI cabang Karanganyar).

 

  • Surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio, Pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin, pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi nasional (PIN) dan surveilans AFP. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh), seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan pelacakan terhadap anak < 15 tahun yang mengalami kelumpuhan layu mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal.
  2. Mengambil specimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhannya, sebanyak dua kali selang waktu pengambilan Idan II>24 jam.
  3. Mengirim kedua specimen tinja ke laboratorium Bio Farma Bandung dengan pengemasan khusus.
  4. Hasil pemeriksaan specimen tinja akan menjadi bukti virologist adanya virus polio didalamnya.
  5. Diagnosa akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan.
  6. Pemeriksaan klinis dilakukan oleh Dokter untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak.

Pada tahun 2018 ditemukan 1 kasus AFP non polio untuk anak <15 tahun diwilayah UPT Puskesmas Kebakkramat I.

 

 

  1. PENYAKIT TIDAK MENULAR

Penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes militus, cedera dan penyakit paru obstruktif serta penyakit kronik lainnya merupakan 63 persen penyebab kematian di seluruh dunia dengan membunuh 36 juta jiwa per tahun (WHO 2010). Di Indonesia sendiri, penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting dan dalam waktu bersamaan  morbiditas dan mortabilitas PTM semakin meningkat. Hal tersebut menjadi beban ganda dalam pelayanan kesehatan, sekaligus tantangan yang harus dihadapi dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia.

Peningkatan PTM berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa. Pengobatan PTM seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar. Beberapa jenis PTM merupakan penyakit kronik dan/atau katastropik yang dapat mengangu ekonomi penderita dan keluarganya. Selain itu, salah satu dampak PTM adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen. Secara global, regional, dan nasional pada tahun 2030 diproyeksikan terjadi transisi epidemiologi dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular.

Berbagai faktor risiko PTM antara lain yaitu merokok dan keterpaparan terhadap asap rokok, minum minuman beralkohol, diet/pola makan, gaya hidup yang tidak sehat, kegemukan, obat-obatan, dan riwayat keluarga (keturunan). Prinsip upaya pencegahan tetap lebih baik dari pengobatan. Upaya pencegahan penyakit tidak menular lebih ditujukan kepada faktor risiko yang telah diidentifikasi.

Di Kabupaten Karanganyar telah menerbitkan Surat Edaran Bupati Nomor : 440/8091.13 tanggal 4 Oktober Tahun 2016 tentang Gerakan Larangan Merokok di Hari Senin. Upaya pengendalian PTM tidak akan berhasil tanpa dukungan dari seluruh jajaran lintas sektor, baik pemerintah, swasta, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, bahkan seluruh lapisan masyarakat. Dibawah ini adalah  diagram yang menunjukkan kasus penyakit tidak menular 2018 di UPT Puskesmas Kebakkramat I.

Grafik3.5 :  Jumlah Penderita Penyakit Diabetes Mellitus(non insulin,insulin) dan Strokedi UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun Tahun 2018

 

 

 

 

Grafik 3.6. Jumlah penderita PPOK, Asma bronkial, dan psikosis

Tahun 2014-2018 di UPT Puskesmas Kebakkramat I

 

Dari diagram diatas, penyakit tidak menular yang pada tahun 2018 kasus PPOK dan asma tertinggi diwilayah kemiri hal ini dikarenakan kemiri merupakan daerah indutri yang dekat dengan pabrik-pabrik dan jalanraya.

  1. KEJADIAN LUAR BIASA ( KLB )

Sesuai lampiran pada tabel 27, tidak ada kejadian KLB di UPT Puskesmas Kebakkramat I pada tahun 2018.

 

  1. ANGKA KEMATIAN

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercemin dalam kondisi angka kematian, angka kematian dan status gizi. Derajat kesehatan masyarakat di gambarkan melalui Angka Kematian Ibu (AKI),  Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), angka morbiditas beberapa penyakit, dan status gizi.

Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan faktor lainnya.

  1. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka kematian Ibu adalah jumlah ibu yang meninggal karena hamil, bersalin dan nifas di suatu wilayah tertentu per 100.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Angka kematian ibu maternal dapat menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan dan tingkat pelayanan kesehatan terutama ibu hamil, ibu  melahirkan dan ibu  nifas. Dari tabel 6, dapat diketahui tidak ada angka kematian ibu melahirkan di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018. Dibandingkan tahun 2017 ada satu kematian ibu melahirkan di desa nangsri.

Grafik3.7 : Angka Kematian Ibu ( AKI ) & Jumlah Kematian Ibu

di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018

  1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta kondisi lingkungan dan soal ekonomi.

Kasus kematian bayi pada tahun 2018 sebanyak 4 kasus, yang terbanyak di wilayah desa

 

  1. Angka Kematian Anak Balita (AKABA)          

Angka Kematian Anak Balita (AKABA) merupakan perbandingan jumlah anak berumur 1 – 5 tahun yang meninggal di suatu wilayah tertentu selama 1 tahun dibagi jumlah kelahiran hidup di wilayah yang sama dalam kurun waktu 1 tahun dikalikan 1000.

Pada tahun 2018 terdapat 5 kasus anak balita mati di UPT Puskesmas Kebakkramat I, jumlah yang sama dengan tahun 2017.

Grafik3.8 : Angka Kematian Balita ( AKABA) dan Jumlah Kasus Kematian Anak Balita di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018

Di UPT Puskesmas Kebakkramat I kasus kematian anak balita rata disemua desa (1 kasus).

 

  1. STATUS GIZI MASYARAKAT

Menurut tabel 47 jumlah balita diiwilayah UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 sebanyak 2010, yang ditimbang sebanyak 1509. Dari balita yang ditimbang pada tahun 2018 status balita garis merah sebanyak 2 (0,1%) kasus sedangkan balita gizi buruk yang ditemukan sebanyak 5 balita, semua balita gizi buruk yang diketemukan, semuanya mendapatkan perawatan (100%).

Pendataan gizi buruk di UPT Puskesmas Kebakkramat I didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilalukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di posyandu dan puskesmas. Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit.

.

Bab IV

Situasi Upaya Kesehatan Puskesmas

 

 

 

Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna terjaminnya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Dalam SKN dinyatakan bahwa upaya kesehatan sangat luas, meliputi upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perseorangan (UKP). Upaya kesehatan juga meliputi upaya promotif (peningkatan kesehatan), upaya prevetif (pencegahan), upaya kuratif (pengobatan) dan upaya rehabilitatif (pemulihan).

Dalam pengelolaan upaya kesehatan juga bisa dilihat dari beberapa aspek sebagai berikut :

  1. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
  2. Pelayanan Kesehatan Pelayanan

 

  1. UPAYA KESEHATAN MASTARAKAT
  1. Pelayanan Kesehatan Ibu
  2. PelayananAntenatal (K1 dan K4)

Kehamilan adalah anugrah yang didambakan oleh pasangan suami istri dengan harapan mendapatkan keturunan yang sehat dan cerdas. Setiap ibu hamil dihapkan dapat menjalankan kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat serta melahirkan bayi yang sehat. Oleh karena itu, setiap ibu hamil harus dapat dengan mudah mengakses fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan sesuai standar, termasuk kemungkinan adanya  masalah/penyakit yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janinnya.

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan/pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar pada masa kehamilan oleh tenaga terampil (dokter, bidan atau perawat) 4 kali dengan interval 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua, dan 2 kali pada trimester ketiga, akan menggambarkan cakupan pelayanan antenatal ibu hamil yang dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan ibu hamil KI dan K4. Penimbangan berat badan, pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet Fe, pemberian imunisasi TT, dan konsultasi merupakan pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan kepada ibu hamil yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan (Antenatal Care/ANC).

Dalam pelayanan ibu hamil (antenatal ) baik pada K1 maupun K4 ibu hamil dibekali dengan tablet besi (Fe),hal ini merupakan upaya penanggulangan anemi pada ibu hamil. Anemi adalah penyebab utama kematian ibu maternal yang disebabkan perdarahan pada waktu persalinan. Selama hamil, disarankan ibu hamil mengkonsumsi 90 tablet Fe mulai trimester I sampai trimester III. Demikian pula pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid) yang dapat mencegah infeksi pada janin yang dikandung oleh ibu hamil. Imunisasi TT diberikan 2 kali selama kehamilan.

Cakupan K4 di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 sebanyak 91,85% dari 503 ibu hamil, turun dari tahun 2017 sebanyak 95.19% dari 499 ibu hamil. Dibawah ini grafik yang menunjukkan cakupan kunjungan ibu hamil K4 di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2017 – 2018.

Grafik4.1 : Perkembangan Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4

di UPT Puskesmas Kebakkramat ITahun 2017 – 2018

  1. Persalinan Yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan

Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Pada kenyataan di lapangan, masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan diluar fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu secara bertahap seluruh persalinan akan ditolong oleh tenaga kesehatan kompeten dan diarahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang kompeten memberikan pelayanan persalinan adalah dokter spesialis kebidanan, dokter dan bidan.

Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan professional di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 sebanyak 100% (dari total ibu hamil 438 jumlah ibu bersalin), sama dengan cakupan tahun 2017 sebanyak 100% (dari total ibu hamil 429 jumlah ibu bersalin). Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2017-2018, dapat dilihat pada grafik 4.2.

Grafik4.2 : Perkembangan Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan di UPT Puskesmas Kebakkramat I

Tahun 20172018

  1. Pelayanan Ibu Nifas

Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam samapai 42 hari paska persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal 3 kali dengan ketentuan waktu :

  1. Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari selah persalinan.
  2. Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2 minggu setelah persalinan (8-14 hari).
  3. Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6 minggu setelah persalinan (36-42 hari).

Cakupan pelayanan pada ibu nifas UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 sebesar 410 atau 100% dari ibu bersalin naik dari tahun 2017 sebesar 398 atau 92.77% dari jumlah ibu bersalin.

  1. Ibu Hamil Mendapat Tablet Fe

Program penanggulangan anemia yang dilakukan adalah dengan memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk menurunkan angka anemia pada Balita, bumil, Bufas, remaja putri dan WUS (Wanita Usia Subur). Hasil pendataan dari Bidang Binkesga untuk program penanggulangan anemia yang ditekankan pada bumil meliputi 2 indikator, yaitu Fe1 dan Fe3. Pencapaian Fe1 dan Fe3 untuk puskesmas dan jaringannya di UPT Puskesmas Kebakkramat I pada tahun 2018 pemberian tablet Fe1 sebanyak 484 (96,2% dari jumlah ibu hamil), Sedangkan pemberian Fe3 pada tahun 2018 sebesar 459(91,3% ibu hamil),

 

  1. Pelayanan Kesehatan Neonatus dan Bayi
  2. Kunjungan Neonatus (KN1 dan KN2)

Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan yang paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 3 (kali) kali, satu kali pada umur 0-7 hari (KN1) dan dua kali lagi pada umur 8-28 hari (KN3 / KN Lengkap).

Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit, dan pemberian imunisasi), pemberian vitamin K, Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM), dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan Buku KIA.

Kunjungan neonates (KN1) tahun 2018 sebanyak 424 bayi (97,7%) dari bayi lahir hidup, Kunjunganneonatal KN3 tahun 2018 sebanyak 421 (97%) dari bayi lahir hidup. Cakupan kunjungan neonatus di UPT Puskesmas Kebakkramat I tinggi, hal ini menggambarkan kondisi saat ini berupa meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan neonatus, peningkatan pelayanan kesehatan terutama kesehatan anak (neonatus, bayi, balita) di Puskesmas, dan adanya pemeriksaan kunjungan ke rumah oleh tenaga kesehatan bagi neonatus yang tidak dapat berkunjung ke puskesmas serta sistem pencatatan dan pelaporan ( PWS KIA ) yang sudah berjalan dengan baik.

  1. Pelayanan Kesehatan Bayi

Bayi juga merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan maupun serangan penyakit, Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Pelayanan kesehatan bayi termasuk salah satu dari beberapa indicator yang bias menjadi ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan pada bayi ditujukan pada bayi usia 29 hari sampai dengan 11 bulan dengan memberikan pelaynan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan yang  memiliki kompetensi klinis kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) minimal 4 kali, yaitu pada 29 hari-2 bulan, 3-5 bulan, 6-8 bulan dan 9-12 bulan sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Pelayanan ini terdiri dari penimbangan berat badan, pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/ HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), Stimulas Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) bayi, pemberian vitamin A pada bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan ASI Eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan lain-lain.

Cakupan pelayanan kesehatan bayi di UPT Puskesmas Kebakkramat I pada tahun 2018 sebesar 99,1 dari 430 bayi dari 434 jumlah bayi yang ada.

  1. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah
  2. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Prasekolah

Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah yang dimaksudkan adalah anak umur 1 – 6 tahun yang dideteksi dini pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan dan dideteksi sesuai jadwalnya. Upaya pemantauan perkembangan kesehatan anak diarahkan untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial anak dengan perhatian khusus pada kelompok balita yang merupakan masa krisis atau periode emas tumbuh kembang anak.

Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah di UPT Puskesmas Kebakkramat I pada tahun 2018 sebesar 1457 (82%).

Upaya peningkatan ketrampilan petugas kesehatan dalam upaya Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang anak (SDIDTK) telah dilakukan dengan pelatihan standarisasi SDIDTK di semua kabupaten/kota baik di tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten. Untuk pengembangan program SDIDTK maka ketrampilan bisa diperoleh tidak hanya melalui pelatihan formal tetapi juga bisa on the job training baik di puskesmas maupun di Rumah Sakit.

Kementerian yang bertanggung jawab langsung terhadap program pengembangan anak usia dini yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Departemen Agama, Kementerian Sosial dan BKKBN telah mendukung pengembangan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan pra sekolah melalui integrasi kegiatan posyandu, PAUD dan BKB. Diharapkan melalui integrasi tersebut, semua balita dan anak pra sekolah akan mendapatkan stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang yang akan mamacu pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal sesuai tahap perkembangannya.

Untuk implementasi pelaksanaan SDIDTK di lapangan maka Pemerintah bersama semua unsur terkait baik swasta, organisasi profesi, LSM dan masyarakat perlu mendukung baik sarana prasarana, pendanaan dan sumber daya manusianya.

  1. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan setingkat

Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap murid baru kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, pemeriksaan ketajaman mata, ketajaman pendengaran, kesehatan gigi, kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani. Pelaksanaan penjaringan kesehatan ini dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah.

Untuk siswa SD dan setingkat ditargetkan 100 % mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penjaringan kesehatan. Dengan melakukan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat diharapkan dapat menapis/menjaring anak yang sakit dan melakukan tindakan intervensi secara dini sehingga anak yang sakit menjadi sembuh dan anak yang sehat tidak tertular menjadi sakit.

Jumlah murid kelas 1 SD tahun 2018 sebanyak 504 siswa. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan/guru UKS/kader kesehatan sekolah pada tahun 2018 sebesar 504 (100%).

  1. Pelayanan Kesehatan Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dan terjadi perubahan fisik yang cepat menyamai orang dewasa, tetapiemosinya belum dapat mengikuti perkembangan jasmaninya, hal ini sering menimbulkan gejolak sehingga masa ini perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah pendidikan dan perhatian agar anak berperilaku hidup sehat, baik secara fisik maupun mental.

Pemeriksaan kesehatan remaja adalah pemeriksaan kesehatan siswa kelas 1 SLTP dan setingkat, kelas 1 SMU dan setingkat melalui penjaringan kesehatan terhadap murid kelas 1 SLTP dan Madrasah Tsanawiyah, kelas 1 SMU/SMK dan Madrasah Aliyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan kader kesehatan remaja secara berjenjang.

  1. Pelayanan Keluarga Berencana
  2. Peserta KB Baru

Peserta KB baru adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan. Jumlah pasangan usia subur (PUS) di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 sebanyak 5837 pasangan. Jumlah peserta KB baru pada tahun  2018 sebesar 0,2% dari jumlah PUS yang ada, peserta KB Aktif tahun 2018 sebanyak 4639 (83,6%), sedang tahun 2017 sebanyak 139.523 (83,9%), tahun 2016 sebanyak 133.234 (79,5%). Berikut peserta KB baru tahun 2017 tersebut mendapatkan kontrasepsi sebagai berikut :

IUD : 11.1%
MOP/MOW : 11.1%
IMPLAN : 11.1%
KONDOM : 22.2%
SUNTIK : 22.2%
PIL : 22.2%

 

 

 

 

 

 

Grafik 4.4 :Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB Baru di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018

  1. Peserta KB Aktif

Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan jumlah peserta KB aktif dengan Pasangan Usia Subur. Cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara Pasangan Usia Subur. Berikut ini persentase peserta KB Aktif tahun 2018 dari total 5837 pasangan usia subur yang ada.

            IUD : 15.3%
MOP : 0.1%
MOW   15.7%
IMPLAN : 7.8%
KONDOM : 1.2%
SUNTIK : 56.3%
PIL : 3.5%

Grafik 4.5 : Persentase Pemakaian Kontrasepsi Peserta KB di UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018

  1. Pelayanan Imunisasi
  2. Persentase Desa yang Mencapai “Universal Child Immunization” (UCI)

Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata berupa pencapaian Universal Child Immunization (UCI) yang berdasarkan indicator cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) yang meliputi HB0 1 kali, BCG 1kali, DPT-HB-Hib 3 kali, Polio 4 kali, dan Campak/MR 1 kali pada bayi usia 1 tahun dengan cakupan minimal 80 persen dari jumlah sasaran bayi di desa.

Prosentase Desa/Kelurahan UCI tahun 2018 UPT Puskesmas Kebakkramat I sebesar 100% (5 desa dari 5 desa), sama dengan tahun 2017 sebesar 100% (5 desa dari 5 desa). Pada tahun 2018 dan tahun 2017 naiknya cakupan UCI desa secara significant dikarenakan perubahan indikator yang digunakan. Pada tahun 2012, dikategorikan sebagai desa UCI jika cakupan seluruh imunisasi dasar minimal 80%, tetapi tahun 2014 menggunakan angka minimal 80% untuk seluruh cakupan bayi riil yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap (sesuai standar cakupan nasional).

Berikut perkembangan cakupan desa UCI di UPT Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2014–2018, dapat dilihat pada grafik

Grafik 4.3 : Perkembangan Cakupan Desa UCI di UPT Puskesmas Kebakkramat I

Tahun 2014 – 2018

  1. Cakupan Imunisasi bayi

Upaya untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian bayi serta anak balita dilaksanakan program imunisasi baik program rutin maupun program tambahan/suplemen untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Hepatitis B, dan MR. Bayi seharusnya mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT-Hib 3 kali, Polio 4 kali, HB Uniject 1 kali dan campak 1 kali.

Selain pemberian imunisasi rutin, program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan/suplemen yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) DT, BIAS Campak/MR yang diberikan pada semua usia kelas I SD/MI/SDLB/SLB, sedangkan BIAS Td diberikan pada semua anak usia kelas II dan V SD/MI/SDLB/SLB, Backlog Fighting (melengkapi status imunisasi).

Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di UPT Puskesmas Kebakkramat I  dari semua antigen sudah mencapai target minimal nasional 96,4%. Jumlah sasaran bayi pada tahun 2018 adalah 434 bayi. Sedang cakupan masing-masing jenis imunisasi adalah sebagai berikut: BCG (429/ 99%), DPT + HB 3 (432/100%), Polio 4 (434/100%), Campak (419/97%), dan Imunisasi Dasar Lengkap (420/97%)

  1. WUS Mendapat Imunisasi TT

Imunisasi TT Wanita usia Subur adalah pemberian imunisasi TT pada Wanita Usia Subur (15-39 th) sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Data kegiatan imunisasi TT WUS saat ini akurasinya masih sangat kurang sehingga belum dapat dinalisis. Hal ini disebabkan :

  • Pencatatan dan pelaporan status imunisasi 5 dosis belum berjalan dengan baik karena pelaksanaan skrining status belum optimal.
  • Penggunaan format pelaporan yang berbeda antara kabupaten/kota ke provinsi dan puskesmas ke kabupaten/kota terutama untuk ibu hamil dan non ibu hamil.
  1. Pelayanan Kesehatan Gigi
  2. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas meliputi kegiatan pelayanan dasar gigi dan upaya kesehatan gigi sekolah. Kegiatan pelayanan dasar gigi adalah tumpatan (penambalan) gigi tetap dan pencabutan gigi tetap. Indikasi dari perhatian masyarakat adalah bila tumpatan gigi tetap semakin bertambah banyak berarti masyarakat lebih memperhatikan kesehatan gigi yang merupakan tindakan preventif sebelum gigi tetap betul betul rusak dan harus dicabut. Sedang pencabutan gigi tetap adalah tindakan kuratif dan rehabilitatif yang merupakan tindakan terakhir yang harus diambil oleh seorang pasien.

Jumlah tumpatan gigi tetap di tahun 2018 sebesar 331, sementara jumlah pencabutan gigi tetap pada tahun 2017 sebesar 182.

  1. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut

Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lainnya adalah Upaya Kesehatan Gigi Sekolah yang merupakan upaya promotif dan preventif kesehatan gigi khususnya untuk anak sekolah. Kegiatan UKGS meliputi pemeriksaan gigi pada seluruh murid untuk mendapatkan murid yang perlu perawatan gigi, kemudian melakukan perawatan pada murid yang memerlukan.

Pada tahun 2018 jumlah murid SD/MI sebanyak 3307 siswa, sedang yang mendapatkan Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) sebanyak 3307 siswa, yang perlu perawatan sebanyak 39 siswa, dan yang mendapatkan perawatan sebanyak 39 siswa.

  1. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut

Pelayanan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut yang dimaksudkan adalah penduduk usia 45 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan, baik di Puskesmas maupun di Posyandu/Kelompok Usia Lanjut . Yang termasuk dalam kelompok pra usia lanjut adalah kelompok umur 45 – 59 tahun, sedangkan usia lanjut adalah kelompok umur lebih atau sama dengan 60 tahun.

Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut UPT Puskesmas Kebakkramat I pada tahun 2018 sebesar 6793 dan yang mendapat perawatan sebesar 3318 atau 48,84%.

Upaya-upaya yang telah dilakukan UPT Puskesmas Kebakkramat I dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pra usila dan usila adalah sbb :

  • Melaksanakan posyandu lansia secara rutin.
  • Melaksanakan senam lansia
  1. 8. Pelayanan Kesehatan Kerja

Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang lebih bermutu dan merata untuk seluruh masyarakat merupakan keinginan yang menjadi landasan pelaksanaan pembangunan kesehatan di Indonesia.

Pembangunan kesehatan di Indonesia selama beberapa dekade yang lalu harus diakui relatif berhasil, terutama pembangunan infra struktur pelayanan kesehatan yang telah menyentuh sebagian besar wilayah kecamatan dan pedesaan.

Namun keberhasilan yang sudah dicapai belum dapat menuntaskan problem kesehatan masyarakat secara menyeluruh, bahkan sebaliknya tantangan sektor baik formal maupun informal kesehatan cenderung semakin meningkat. Tantangan lainnya yang harus ditanggulangi antara lain adalah meningkatnya masalah kesehatan kerja, serta dampak globalisasi yang akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan keadaan kesehatan masyarakat. Berdasarkan penjelasan di atas sangat diperlukan upaya agar masalah kesehatan di masa depan dapat ditanggulangi sehingga mencapai kualitas kesehatan masyarakat senantiasa terjaga baik.

Beberapa upaya pelayanan kesehatan kerja yang dilakukan di Kabupaten Karanganyar adalah pembinaan upaya pengembangan pelayanan kesehatan kerja pada puskesmas di kawasan/sentra industri. Peningkatan kapasitas dokter puskesmas dan dokter klinik perusahaan tentang pelayanan kesehatan kerja dan deteksi dini penyakit akibat kerja, serta peningkatan kerja sama lintas sektor dan lintas program dalam pengembangan pelayanan kesehatan kerja baik di Puskesmas maupun di masyarakat

Berdasarkan data dari kecamatan Kebakkramat, jumlah Penduduk di wilayah puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 adalah 32723  jiwa dan lebih dari 50 persen penduduknya merupakan usia kerja.

Pekerja sektor informal adalah mereka yang bekerja dengan modal skala kecil dengan ciri-ciri antara lain : bekerja dalam jam kerja yang tidak tetap dan umumnya mempergunakan tenaga kerja dari lingkungan keluarga sendiri, risiko bahaya pekerjaan tinggi, keterbatasan sumber daya dalam mengubah lingkungan kerja, kesadaran tentang risiko bahaya pekerjaan rendah, kondisi pekerjaan tidak ergonomis, keluarga banyak yang terpajan, kurangnya pemeliharaan kesehatan M. Mikhew (ICHOIS 1997).

Sedang pekerja sektor formal adalah pekerja yang bekerja pada perusahaan, instansi instansi pemerintah dimana dalam menjalankan pekerjaannya pekerja tersebut mendapat perlindungan dari undang-undang yang ada, baik untuk kesejahteraannya maupun untuk kesehatannya. Namun begitu untuk lebih melindungi pekerja pada sektor formal ini kegiatan pencegahan penyakit akibat kerja perlu lebih dilaksanakan.

Pekerja sektor formal maupun informal memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Oleh karena itu sudah sepatutnya para pekerja ini mendapatkan perhatian dari pemerintah. Salah satunya adalah dalam bidang peningkatan derajat kesehatan.

  1. 9. Upaya Penyuluhan Kesehatan

Kesehatan sebagai hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang menjadi tanggung jawab setiap orang, keluarga dan masyarakat serta didukung oleh pemerintah. Undang-undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan Pembangunan Kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk itu upaya kesehatan harus ditingkatkan secara terus menerus untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Setiap orang berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan, lingkungan yang sehat dan informasi serta edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Setiap orang juga berkewajiban berperilaku Hidup Bersih dan Sehat seta menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.

Promosi kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Kegiatan promosi kesehatan yang diselenggarakan di Pusat dan Daerah mencakup diantaranya penyebarluasan informasi termasuk penyuluhan kesehatan.

Upaya penyuluhan adalah semua usaha secara sadar dan berencana yang dilakukan untuk memperbaiki perilaku manusia sesuai prinsip-prinsip pendidikan dalam bidang kesehatan. Penyuluhan kelompok adalah penyuluhan yang dilakukan pada kelompok sasaran tertentu, misalnya : kelompok siswa sekolah, kelompok ibu-ibu PKK dan lain sebagainya. Sedangkan penyuluhan massa adalah penyuluhan yang dilakukan dengan sasaran massa seperti : pameran, pemutaran film, melalui media massa, cetak dan elektronik.

  1. B. UPAYA KESEHATAN PERSEORANGAN
  2. Cakupan Kunjungan Rawat Jalan, Rawat inap dan pasien gangguan jiwa

Berdasarkan tabel 54 kunjungan rawat jalan UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 adalah 25.706 pasien dari total jumlah penduduk 32.723(78,6%) hal ini berarti bahwa masyarakat masih percaya dengan pelayanan yang dilakukanoleh UPT Puskesmas Kebakkramat I.

Kunjungan rawat inap UPT Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 adalah 474 kunjungan dari total penduduk 32.723 (1.4%). Sedangkan kunjungan gangguan jiwa sebesar 65 pasien.

  1. Angka Kematian Penderita Yang Dirawat < 48 Jam / Net Death Rate (NDR)

NDR adalah angka kematian lebih atau sama dengan 48 jam. Nilai NDR yang dapat ditolerir adalah 25 per 1.000 penderita keluar. NDR Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 nol atau tidak ada.

  1. Pemakaian Tempat Tidur (Bed Occupancy Rate/BOR)

Bed Occupation Rate (BOR) yang ideal untuk suatu rumah sakit adalah antara 60% sampai dengan 80%. Persentase rata-rata pemakaian tempat tidur rawat inap Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 adalah 29.7%,

  1. Rata-rata lama rawat seorang pasien /Average Length of Stay (ALOS)

Average Length Of Stay (ALOS) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien yang secara umum nilai ALOS ideal antara 6-9 hari. ALOS di Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 sebesar 1,9 hari.

  1. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati (TOI)

Turn Of Interval (TOI) adalah rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati. Angka ideal untuk TOI adalah 1-3 hari. TOI untuk Puskesmas Kebakkramat I tahun 2018 adalah 4.4 hari,.

  1. Jenis-jenis Pelayanan UPT Puskesmas Kebakkramat I
  • Kegawatdaruratan
  • Pemeriksaan Umum
  • Pemerikasaan Gigi dan Mulut
  • KIA & KB( ANC Terpadu : USG)
  • Persalinan
  • Rawat Inap
  • Kefarmasian
  • Laboratorium
  • Fisioterapi
  • VCT & CST
  • IVA test
  • Imunisasi
  • IMS

 

 

 

 

Bab V

Situasi Sumber Daya Kesehatan

 

Menurut Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang dimaksud dengan sumber daya di bidang kesehatan segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan menyatakan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan, dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan atau masyarakat.

  1. SARANA KESEHATAN

Tabel 5.1 :  Jumlah Sarana Kesehatan di UPT Puskesmas Kebakkramat I

 NO JENIS SARANA kepemilikan Jumlah
1 Rumah sakit Umum Swasta 1
2 Puskesmas Pembantu Pemkab 1
3 PKD Pemkab 5
4 Klinik Pratama Swasta 2
5 BPM Swasta 3
6 Praktek mandiri dokter Swasta 2
7 Praktek mandiri perawat Swasta 1
8 Apotek Swasta 5
  1. SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN

Tabel 5.2:  Jumlah Sumber Daya Manusia di UPT Puskesmas Kebakkramat I

No Jenis Tenaga PNS dan Non PNS

 

2018 Ket
2 Dokter umum 2  
3 Dokter gigi 1  
4 Sarjana Kesehatan Masyarakat 1 SKM dan M.Kes (non struktural)
5 Perawat /Perawat gigi 17 PNS dan Non PNS
6 Bidan 25 PNS, Non PNS dan PTT
7 Tenaga Gizi 2 PNS
8 Tenaga Kesehatan lingkungan 1 PNS
9 Tenaga Kefarmasian 2 Apoteker dan asisten apoteker
10 Tenaga Analis Laboratorium (Analis Kes) 2 PNS dan non PNS
12 Tenaga administrasi 3  
11 Pekarya 2 PNS
  Tenaga Fisioterapis    

Sumber : Profil SDM Kesehatan tahun 2018 UPT puskesmas Kebakkramat

 Dari data diatas dapat diketahui bahwa tenaga yang dipersyaratkan dalam PMK 75 tahun 2014 sudah sesuai hanya saja jumlah untuk tenaga gizi masih kurang satu orang. Tahun 2019 sudah direcanakan untuk merekrut tenaga gizi baru.

  1. PEMBIAYAAN KESEHATAN

PEMBIAYAAN KESEHATAN DI PUSKESMAS KEBAKKRAMAT 1

TAHUN 2018

 

NO SUMBER BIAYA JUMLAH KETERANGAN
1

 

 

 

2.

 

3.

 

 

 

4.

 

5

 

 

 

6

 

7.

 

 

 

 

JKN KAPITASI

Jasa Pelayanan

Operasional

 

KESDA

 

JKN NON KAPITASI

Jasa Pelayanan

Sarana

Bidan Praktek Mandiri

JASA PELAYANAN RUTIN

OPERASIONAL

Listrik

Telpon

Makan RI

DANA INSENTIF KADER

BOK

BPJS KETENAGAKERJAAN

Jasa

Sarana

Rp.    1.655.677.000

Rp.       900.417.600

Rp.       755.259.400

 

Rp.       3.233.300

 

Rp.     141.688.500

Rp.       125.121.000

Rp.       73.420.000

Rp.       9.800.000

Rp.       65.193.600

 

 

Rp.       32.946.370

Rp.         8.520.583

Rp.         5.660.000

Rp      127.800.000

 

Rp.     605.286.000

Rp. 

 

Rp.       15. 590.400

Rp.        12.180.000

Realisasi

Jasa   Rp.      898.621.087

Oprasional Rp.      526.693

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  JUMLAH

 

Rp. 2.609.161.000 Silva : Rp. 247.799.538

 

 

 

 

 

 

 

Bab VI

Kesimpulan

 

Berdasarkan hasil evaluasi akhir tahun 2018 diketahui bahwa jumlah penduduk UPT Puskesmas Kebakkramat I sejumlah 32.723 jiwa. Beberapa aspek yang dapat dihubungkan dengan derajat kesehatan selama tahun 2018 antara lain dapat dilihat dari faktor-faktor dibawah ini :

  1. Angka Kesakitan
  2. Angka kesakitan penyakit yang bersumber binatang :

  Tidak ada penderita malaria tahun 2018 yang ditemukan.

  Kasus DBD tahun 2018 sebanyak 39 kasus turun

  Tahun 2018 tidak di temukan kasus filariasis.

  1. Kasus penyakit menular langsung diketahui sebagai berikut :

  Kasus penemuan TB Paru tahun 2018 sebanyak 12 kasus

  Penderita kusta tahun 2018 sebanyak 1 kasus PB

  Kasus Diare ditangani tahun 2018 sebanyak 990 kasus

  Balita pneumonia tahun 2018 sebanyak 216 kasus

  Penemuan kasus AFP tahun 2017 sebanyak 1 kasus

  Penderita HIV dan AIDS Kabupaten Karanganyar tahun 2018 sebanyak 133 penderita (HIV sebanyak 84 penderita, AIDS sebanyak 49 penderita), naik dibanding tahun 2018 sebanyak 100 penderita (HIV sebanyak 22 penderita, AIDS sebanyak 57 penderita).

  1. Tidak ada Kejadian Luar Biasa selama tahun 2018.
  2. a) Angka kematian

  Tidak ada Angka kematian ibu tahun 2018

  Angka kematian bayi tahun 2014 sebesar 4 bayi

  Angka  kematian  anak balita  tahun 2018 ada5 kasus

  1. b) Keadaan Gizi

  Pada tahun 2018 dari jumlah balita yang ada dan ditimbang sebesar 1509 balita yang termasuk balita garis merah (BMG) sebanyak 2 balita dan yang termasuk balita gizi buruk sebanyak 5 balita dan semua ditangani.

  Cakupan ASI Eksklusif tahun 2018 sebanyak 86 bayi (62,5%)

  1. c) Keadaan Lingkungan

  Jumlah rumah / bangunan yang ada di Kabupaten Karanganyar tahun 2017 sebanyak 10518 unit.

  Jumlah desa yang melaksanakan STBM sebanyak 5 desa (100%)

  1. d) Upaya Kesehatan

  Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan di Kabupaten Karanganyar tahun 2018, cakupan kunjungan rawat inap sebesar `1.4% (474 kunjungan), sedangkan cakupan kunjungan rawat jalan sebesar 78.6% (25706 kunjungan).

  Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan Puskesmas Kebakkramat I Tahun 2018 diketahui dari beberapa indikator, yaitu :

  1. BOR sebanyak 29.7%.
  2. LOS sebanyak 1.9 hari.
  3. TOI sebanyak 4.4 hari.
  4. GDR sebesar 0.
  5. NDR sebesar 0 hari.

  Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan professional tahun 2018 sebanyak 438 (100%).

  Desa/kelurahan  UCI sebanyak 5 dari 5 desa/kelurahan yang ada atau 100%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment